Skip to main content
pengalaman kpr syariah

Pengalaman KPR Syariah di Bank Muamalat

Pengalaman KPR Syariah • Nama saya Nur, seorang muslimah yang juga pegawai swasta di Jakarta. Saya sudah menikah dan suami saya juga seorang karyawan swasta. Saya ingin berbagi cerita mengenai pengalaman KPR Syariah saya ketika mengajukan KPR Syariah Muamalat. Saya ingin berbagi tentang pengalaman pengajuan KPR syariah ini, karena di Google, sepertinya tidak banyak orang yang berbagi cerita seputar pengalaman KPR Syariah.

Pengalaman KPR Syariah

Karena dengan berbagi, kita akan lebih mengetahui secara detail mengenai KPR Syariah dan bagaimana proses pengajuanya. Bisa juga dijadikan referensi untuk Anda yang mungkin hendak mengajukan KPR Syariah. Sebagai umat muslim, kita ingin selalu menjalankan sesuatu hal sesuai dengan perintahNYA. Namun, karena kebutuhan, terkadang kita harus menjalani hal yang mungkin tidak dianjurkan, tapi masih bisa dilakukan dengan syarat tertentu. Hal ini berlaku ketika saya mengajukan KPR Syariah ke bank Muamalat.

KPR Syariah : Utang Yang dibolehkan Dalam Islam

Pada saat itu sekitar bulan juni 2009 yang lalu, akhirnya saya diberikan kelancaran oleh Allah untuk bisa memiliki rumah lewat KPR. Walau saya dan suami tidak memiliki banyak uang, tapi dengan izinNYA akhirnya kami bisa mewujudkan mimpi untuk memiliki rumah idaman kami. Saya dan Suami mantap untuk mengambil KPR, dengan niat akan melunasinya hingga selesai.

Membeli rumah lewat KPR memang identik dengan berhutang, tapi Islam tidak mengharamkan kita untuk berhutang. Bahkan sebuah hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah, no.2408: An Nasa’I dan no.4690, Al Hafizh Abu Thahir menerangkan “ Jika seorang muslim sedang memiliki utang dan Allah mengetahui bahwa dia memiliki niat untuk melunasi utang tersebut, maka Allah akan memudahkan baginya untuk melunasi utang tersebut di dunia”.

Saya dan suami juga berpikir, membeli rumah dengan KPR masih lebih baik dibandingkan dengan meminta pinjaman uang kepada teman atau saudara. Resiko meminjam uang pada mereka bisa lebih besar. Mulai dari hubungan pertemanan yang bisa jadi kurang baik, hingga yang paling parah adalah putusnya silaturahmi dengan mereka, hanya karena uang pinjaman tersebut.

Alasan Memilih KPR Bank Syariah

Hal lainya yang membuat saya mantap untuk mengambil KPR Syariah Muamalat ini adalah “Akad”. Akad itu penting dalam proses jual beli (lewat KPR), karena jelas halalnya. Saya dan suami berpikir, lebih baik KPR syariah saja, dibandingkan KPR Bank Konvensional yang semua orang sudah tahu, jelas ribanya.

baca juga: KPR Muamalat

Kelebihan KPR bank Syariah lainya, menurut saya, juga terletak pada rate suku bunga KPR nya yang cukup beragam. Intinya, untuk KPR Syariah rate suku bunganya itu berkisar diantara 7.5% – 10 % saja. sedangkan, untuk KPR Konvensional suku bunganya dari 14% -19%.

Anda mungkin akan berpikir, bahwa suku bunga KPR di bank Konvensional lebih tinggi dari Bank syariah, padahal kenyataanya tidak seperti itu.

Saya membaca berbagai literature tentang KPR, dan saya mendapati bahwa besarnya angsuran KPR di bank syariah, ternyata ekivalen dengan KPR bunga konvesional. Contohnya, jika pada KPR Syariah suku bunganya sebesar 8%, maka nilainya setara atau ekivalen dengan suku bunga 14.5%- 14.7% pada KPR konvensional. Namun, karena KPR Syariah memiliki Akad, saya tentu lebih memilih yang sesuai syariah agama saya.

 

Ajukan Sekarang

Untuk mempercepat proses pengajuan, Mohon isi semua data dibawah dengan benar



Memiliki Tunggakan kredit / Masalah BI Checking?
TidakYa

 

Prosedur Pengalaman KPR Syariah

Saat itu, saya hanya melakukan survey ke dua bank di dekat daerah saya. Sebelumnya, saya perlu menyediakan dokumen yang harus dipersiapkan. Dokumen pengajuan KPR konvensional dan KPR syariah hampir sama. Syarat utamanya yaitu :

  • Surat keterangan bekerja dari perusahaan kami
  • NPWP, Slip Gaji Saya dan Suami
  • Kartu Keluarga dan KTP kami berdua yang sesuai KK tersebut
  • Rekening Koran tabungan selama 3 bulan terakhir (dari bank mana saja)
  • Surat resmi dari penjual rumah, seperti Fotokopi IMB, PBB dan SHM atau HGB
  • Syarat lainya, bisa di Cek di masing-masing bank syariah

Saat hendak mengajukan KPR ke bank syariah Muamalat, kita akan dipertemukan dengan pihak marketing KPR bank bersangkutan.

Saya melihat, pihak marketing cukup ramah dan detail dalam menjelaskan seputar KPR syariah. Saya sarankan, jika bertemu dengan staf marketing seperti ini, ambil catatan dan tanyakan beberapa hal mengenai KPR yang penting untuk kita ketahui, seperti :

  • Tanyakan mengenai detail syarat yang harus dipenuhi
  • Rincian angsuran per bulanya, jika perlu minta brosur tentang jumlah pinjaman dan waktu pelunasan yang tersedia. Sebab, rate KPR syariah juga mengalami kenaikan setiap bulanya. Tapi, waktu itu sih, saya sedang turun rate nya.
  • Tanyakan tentang skema pelunasan, apakah bisa jika kita hendak melakukan pelunasan sebagian atau keseluruhan nantinya. Pelunasan di bank Muamalat hanya pelunasan untuk keseluruhan. itu juga hanya dilunasi sisa pokok kreditnya, bukan keseluruhan (pokok dan keuntungan)
  • Tanyakan soal skema sanksi, jika saja sewaktu-waktu kita mengalami keterlambatan pembayaran. Untuk bank Muamalat sendiri, denda yang berlaku bisa mencapai Rp. 400 rupiah/ hari. Denda tersebut tidak masuk ke bagian Kas bank.

Biaya pengurusan KPR dan Biaya lainya

Sama seperti KPR di bank konvensional, KPR bank syariah juga memberikan rincian biaya yang wajib dibayar oleh nasabah yang mengajukan KPR. Untungnya, pihak marketing bank Muamalat memberitahukan tentang berbagai biaya ini, sehingga saya bisa menyiapkan uangnya lebih awal.

Biaya yang ternyata harus saya ketahui dari awal, berikut mempersiapkan dananya dulu adalah biaya urusan jual beli dan biaya administrasi KPR nya. Rincianya sebagai berikut :

  • Biaya Jual beli ini, termasuk pajak penjual (ditanggung oleh penjual) dan pajak pembeli (ditanggung pihak pembeli). Besarnya pajak adalah 5% dari harga jual dikurangi NJOTKP (perhitungan ini, akan dijelaskan pihak Notaris. Biaya tersebut kami bayarkan bersama bantuan Notaris. besarnya pajak ini, bisa berubah sewaktu-waktu, tergantung harga rumah. jika harga rumah tinggi, maka pajak akan lebih besar.
  • Biaya AJB (Akad Jual Beli) sebesar Rp. 1 juta rupiah , yang dibayar oleh pembeli dan penjual rumah
  • Biaya Balik Nama (SHM) biaya yang sudah disesuaikan dengan tarif dari Notaris, sebesar Rp. 1 juta rupiah. Rincian nominal biaya tersebut bisa ditanyakan langsung kepada Notaris.
  • Surat Pengantar atau cover note untuk ke Bank. Setelah bank Muamalat menerima surat tersebut, kami dipanggil dan bertemu dengan Notaris lainya (rekomendasi dari Bank) untuk melakukan pengikatan kredit diantara pihak bank Muamalat dengan kami. prosesnya hanya beberapa menit saja, dan saat itu, dana langsung cair.

Untuk biaya Administrasi yang perlu dikeluarkan , berdasarkan pengalaman KPR Syariah kami, hampir 2 jutaan dengan rincian seperti ini:

  • Biaya administrasi bank Rp. 750.000
  • Biaya notaris bankRp. 700.000
  • Premi sekaligus untuk asuransi jiwa (Jaminan Utang tidak harus berlanjut di anak cucu nanti) Rp. 150.000
  • Premi sekaligus untuk asuransi kebakaran rumah Rp. 150.000
  • Plus tambahan dana untuk saldo mengendap di rekening sebesar 1x angsuran.

Proses Pengajuan KPR Hingga Pencairan Dana

Proses pengajuan hingga jawaban diterima atau ditolaknya pengajuan KPR Syariah saya, waktu itu memakan waktu hingga 5 minggu. Sebenarnya, proses yang sebenarnya hanya sebentar kok, yaitu 5 hari kerja. Tapi, saat itu, saya mengalami beberapa masalah ketika menunggu jawaban pihak bank, seperti :

  • Adanya salah paham mengenai data yang diberikan, memakan waktu 4 hari kerja, namun sudah selesai masalahnya
  • Staf marketing dari bank Muamalat, yang membantu menangani KPR kami ternyata sakit dan dirawat di rumah sakit ( selama 1 minggu). Saya sudah suka dengan kinerjanya, jadi malas untuk mengajukan KPR ke staf lainya

Ada baiknya, selama proses menunggu jawaban ini, kita banyak bertanya pada pihak bank yang bersangkutan, supaya tidak merasa harap- harap cemas, apakah KPR kita diterima atau ditolak.

demikian pengalaman KPR Syariah saya saat mengajukan KPR ke bank Syariah Muamalat. pengalaman yang saya dapatkan ini belum tentu sama dengan pengalaman KPR Syariah Anda, karena banyak faktor yang harus dipertimbangkan oleh setiap bank yang bersangkutan. pengalaman ini hanya gambaran saja bagi Anda, tentang apa saja yang diperlukan, ketika kita hendak mengajukan KPR Syariah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *