Skip to main content
Perbandingan KPR Syariah dengan KPR konvensional

Perbandingan KPR Syariah dengan KPR konvensional

Perbandingan KPR Syariah dengan KPR konvensional • Karena “buganya” lebih besar dibandingkan dari bank kinvensional, banyak yang beranggapan bahwa Bank syariah itu sebenarnya “tidak terlalu Syariah” seperti yang kita duga. Benarkah seperti itu?

Bank merupakan perantara bagi orang yang memiliki kelebihan dana dengan orang yang membutuhkan dana. Penyaluran dana kepada  orang yang membutuhkan dana (nasabah) ini bisa melalui berbagai mekanisme perbankan. Salah satunya adalah melalui pembiayaan
Bank Syariah ataupun Bank Konvensional sama-sama melakukan aktifitas pembiayaan. Pembiayaan di bank konvensional biasa disebut kredit sedangkan pada bank syariah hal tersebut dinamakan murobahah.

Perbandingan KPR Syariah dengan KPR Konvensional

Perbandingan KPR Syariah dengan KPR konvensional yang paling utama adalah terletak pada akad.

Pada kredit Bank Konvensional, pemberian kredit dilakukan dengan cara memberikan uang secara langsung. Kemudian kreditur (masyarakat) diberikan kebebasan untuk menggunakan uang tersebut untuk apapun. Usaha, renovasi rumah, pendidikan dan lain-lain.

Artinya pada bank konvensional, Bank tidak berhak tahu mengenai penggunaan uang yang diberikan kepada nasabah. Bagi Bank Konvensional, tidak penting untuk apa uang tersebut digunakan selama nasabah membayar kredit pokok pinjaman serta bunga yang telah ditetapkan oleh Bank.

Sedang pada Bank Syariah, murobahah merupakan transaksi jual beli yang keuntungannya diketahui oleh kedua belah pihak dan bukan merupakan pemberian kredit, seperti sekenario berikut:

  1. Nasabah memiliki keinginan untuk membeli suatu barang.
  2. Kemudian Nasabah meminta kepada Bank untuk membelikan barang tersebut.
  3. Bank membelikan barang yang Nasabah inginkan
  4. Lantas Bank menjual barang tersebut kepada Nasabah

Keuntungan Bank diambil dari selisih harga barang yang dijual kepada Nasabah.

Dalam akad Murobahah akan ada akad tambahan perwakilan (wikalah). Hal tersebut dikarenakan Bank dilarang melakukan transaksi jual beli secara langsung. sebab itu lah hak pembelian dilakukan oleh nasabah.

Dengan adanya akad perwakilan ini, mekanismenya hampir sama dengan transaksi kredit di bank konvensional. Perbedaanya adalah KPR Syariah Bank harus mengetahui barang apa yangbakan dibeli oleh Bank.

Selanjutnya, Perbandingan KPR Syariah dengan KPR konvensional yang lain adalah keuntungan.

Bank konvensional mengambil keuntungan dengan membebankan bunga pada nasabah. Tarif bunga akan mengacu pada tingkat suku bunga yang dikeluarkan oleh BI. Sehingga mengikuti mekanisme pasar.

Keuntungan bank konvensional didapatkan dari bunga yang dibebankan kepada nasabah. Besarnya suku bunga ditentukan oleh suku bunga acuan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia dan  mengikuti mekanisme pasar.

Pada Bank Syariah, keuntungan yang diambil disebut dengan margin. seperti pada bank konvensional, perhitungan margin bank syariah juga berdasar kepada tingkat suku bunga pasar yang dikeluarkan Bank Indonesia. Bahkan, margin murobahah bank syariah lebih tinggi suku bunga nya dibandingkan dengan suku bunga KPR Konvensional.

lebih murah kpr syariah atau konvensional?

Melihat kepada dua hal tersebut banyak masyarakat yang menganggap bahwa KPR bank syariah sama saja dengan KPR melalui bank konvensional. yang berbeda dari keduanya hanyalah:

  1. bungkus luarnya berupa imbuhan embel-embel syariah sedangkan pada bank konvensional tidak ada.
  2. Pada bank konvensional namanya Bunga, sedangkan pada bank syariah namanya margin.

Bahkan, pada kenyataanya bunga KPR Bank syariah lebih tinggi dibandingkan dengan bunga KPR Konvensional.

Mengapa KPR Syariah Lebih Mahal?

Ada beberapa penjelasan mengapa cicilan KPR Bank syariah lebih mahal dibandingkan dengan Cicilan KPR Konvensional.

Pertama: Pada KPR Syariah, bank merupakan mediator dan merupakan “perwakilan” pada akad murobahah. Bank bukan merupakan pemilik ataupun pembeli, melainkan sebagai pihak perantara atau pihak ke-tiga. Karena peraturan perbankan menyatakan bahwa Bank tidak diperbolehkan untuk melakukan transaksi jual beli, maka ditambahkankah akad pereakilan kedalam transaksi murobahah.

Kedua: lebih tingginya Margin (“bunga”)  KPR syariah yang lebih tinggi dari KPR konvensional adakah bukan tanpa alasan. Berbekal pengalaman yang terjadi di dalam negeri ataupun di dunia Internasional dimana suku bunga biasanya bergejolak karena adanya krisis keuangan. Saat krisis keuangan terjadi, suku bunga sangat tidak menentu. Saat ini 10%, tahun depan 20% dan tahun berikutnya bisa saja 30%.

Menggantungkan tingkat suku bunga pada mekanisme pasar akan menimbulkan ketidakpastian. Alih-alih mengikuti menakisme pasar, hal tersebut bisa menyebabkan ketidakamanan pada nasabah. Jika krisis terulang maka akan menjadi beban buat nasabah. Cicilan akan melambung tinggi. Akhirnya, kredit macet acapkali terjadi.

Seperti diketahui, Bank syariah memberikan suku bunga KPR yang bersifat fixed/tetap (selengakpnya mengenai suku bunga fixed baca disini). Tingginya margin dalam akad murobahah memang dipengaruhi karena dijadikannya tingkat inflasi dan suku bunga sebagai acuan dalam menentukan harga jual produk murobahah.

Namun begitu, melalui KPR Syariah masyarakat tidak perlu risau dengan naik turunnya suku bunga ataupun inflasi. Karena saat terjadi krisis keuanganpun, besar cicilan KPR syariah yang harus dibayarkan tidak akan berubah sama sekali

Kesimpulannya adalah, kenapa “bunga” KPR syariah lebih tinggi dibandingkan dengan KPR Konvensional adalah untuk mengantisipasi faktor ekonomi pada masa yang akan datang. Jika suku bunga lebih rendah, nasabah yang akan dirugikan. Jika lebih tinggi maka bank yang akan menanggung kerugiannya.